Download POA Program Diare 2015 PDF

TitlePOA Program Diare 2015
File Size340.3 KB
Total Pages27
Table of Contents
                            No.
Akar Penyebab Masalah
Alternatif Pemecahan Masalah
1
1. Pelatihan/Refresing tentang tatalaksana MTBS
2
1. Melaksanakan penyuluhan kesehatan di setiap kegiatan seperti di posyandu, PSN, sekolah, dan Ponpes
3
1. Penyediaan dan distribusi obat yang cukup
4
1. Saling mengirim informasi / laporan setiap minggu via sms
2. Supervisi ke desa setiap tribulan
Tabel 6 .Tenaga Kerja Puskesmas Tunjung Tahun 2014
BAB III
BAB IV
Tabel 24 Masalah yang Dihadapi di Puskesmas Tunjung berdasarkan Pencapaian Target SPM dan Non SPM Tahun 2014
4.2 Prioritas Masalah
Prioritas masalah dilakukan untuk menentukan beberapa masalah yang akan dicari pemecahan masalahnya. Pemprioritasan masalah dilakukan karena sumber daya yang dimiliki oleh Puskesmas terbatas. Adapun metode yang digunakan untuk memprioritaskan masalah adalah metode Pair Comparison dengan faktor pembanding USG, antara satu masalah dengan masalah lainnya dibandingkan satu persatu. Misalnya: (masalah A : masalah B); (masalah A : masalah C); (masalah B : masalah C). Dalam metode ini, digunakan tiga pertanyaan pokok untuk mengidentifikasi masalah mana yang menjadi prioritas, yaitu:
1. Urgency. Berapa lama waktu yang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah sampai ke tingkat keputusan dan tersusunnya rencana tindakan serta berapa banyak waktu yang tersedia bagi manajemen untuk dapat melaksanakan proses pemecahan masalah ini.
2. Seriousness. Seberapa besar pengaruh negatif sebuah masalah terhadap komponen-komponen lain dari system organisasi, yang diperkirakan akan mengganggu kinerja Puskesmas. Misalnya: pengaruhnya terhadap tingkat kepuasan masyarakat, serta pengaruhnya terhadap motivasi nakes.
3. Growth. Seberapa kompleks sebuah masalah, sehingga besar kemungkinan adanya keterkaitan dengan kepentingan banyak orang di banyak tempat, terutama bila dilihat dari variabel (4W + 1H)-nya, akan menumbuhkan masalah-masalah baru yang lebih rumit dan lebih sulit diselesaikan.
Penentuan masalah terpilih dalam setiap perbandingan diputuskan melalui kesepakatan bersama di antara petugas Puskesmas yang hadir, kemudian dijumlahkan. Jumlah pilihan terbanyak itulah yang menjadi masalah prioritas dengan keterwakilan program.
Berdasarkan diskusi Pair Comparison, masalah yang terpilih menjadi prioritas adalah :
Tabel 25 Prioritas Masalah P2 Diare di Puskesmas Tunjung Tahun 2015
4.2 Penyebab Masalah dan Alternatif Pemecahan Masalah
. Untuk mencari pemecahan masalah, semua peserta diskusi mengemukakan ide untuk penyelesaian akar masalah dan ide-ide yang terkumpul didiskusikan lagi tentang kemungkinannya untuk dipilih dan dibuat rencana pelaksanaan kegiatannya.
Berdasarkan fishbone yang telah dibuat, akar penyebab dari masing-masing masalah dan alternatif pemecahan masalah yang dapat diterapkan sebagai berikut :
1. Rendahnya cakupan pelayanan diare sebesar 88,14 persen dari target 100 persen di puskesmas tunjung tahun 2014. Berikut ini adalah tabel akar masalah.
Tabel 26 Akar masalah
4.4 Prioritas Pemecahan Masalah
Setelah menentukan alternatif pemecahan masalah dari tiap akar penyebab masalah, maka proses selanjutnya adalah menentukan prioritas pemecahan masalah. Metode yang dilakukan untuk prioritas pemecahan masalah adalah metode penyusunan skala prioritas untuk menilai dan menganalisis alternatif pemecahan masalah yang layak atau fisible (Matriks Prioritas).
Matrik Prioritas secara teknis langkah melakukan prioritas pemecahan masalah, sama dengan melakukan prioritas masalah dan penyebab masalah. Namun yang berbeda adalah kriteria yang digunakan dalam matriks. Kriteria yang mungkin dapat digunakan dalam memilih alternatif pemecahan masalah adalah:
1. Efektivitas, tingkat ketepatgunaan alternatif pemecahan masalah dalam menyelesaikan masalah.
2. Efisiensi, tingkat penggunaan dana dalam penyelesaian masalah.
3. Technical feasibility, tingkat kelayakan pelaksanaan alternatif pemecahan masalah.
(Paul dalam Yuwono, 2008)
Pemberian bobot pada masing-masing alternatif pemecahan masalah disesuaikan dengan kriteria:
a) Kriteria efektivitas:
1  pemecahan masalah sangat tidak efektif untuk dilaksanakan
2  pemecahan masalah tidak efektif untuk dilaksanakan
3  pemecahan masalah cukup efektif untuk dilaksanakan
4  pemecahan masalah efektif untuk dilaksanakan
5  pemecahan masalah sangat efektif untuk dilaksanakan
b) Kriteria efisiensi:
1  pemecahan masalah sangat tidak efisien untuk dilaksanakan
2  pemecahan masalah tidak efisien untuk dilaksanakan
3  pemecahan masalah cukup efisien untuk dilaksanakan
4  pemecahan masalah efisien untuk dilaksanakan
5  pemecahan masalah sangat efisien untuk dilaksanakan
c) Kriteria Technical feasibility:
1  pemecahan masalah sangat tidak layak untuk dilakukan
2  pemecahan masalah tidak layak untuk dilakukan
3  pemecahan masalah cukup layak untuk dilakukan
4  pemecahan masalah layak untuk dilakukan
5  pemecahan masalah sangat layak untuk dilakukan
1. Rendahnya cakupan pelayanan penyakit diare sebesar 91,08 persen
Dari hasil skoring yang telah dilaksanakan, didapatkan pemecahan masalah terpilih yang paling sesuai untuk menyelesaikan masalah Rendahnya cakupan pelayanan penyakit diare. Berikut ini adalah prioritas pemecahan masalah yang terpilih yaitu:
1. Refresing tentang penyakit diare dan pelatihan MTBS;
2. Melaksanakan penyuluhan di setiap kegiatan
3. Penyediaan dan dstribusi logistik obat yang cukup;
4. Melakukan survei dan kunjungan lapangan
5. Mengirim laporan mingguan dan bulanan
BAB V
1. Mengadakan refresing tentang penyakit diare kepada kader
2. Melakukan pelatihan tentang MTBS kepada petugas;
3. Melaksanakan penyuluhan kesehatan di setiap kegiatan;
4. Melaksanakan survei/ kunjungan lapangan;
5. Menyediakan logistik obat dan distribusi yang cukup;
6. Menjalin komunikasi yang efektif dengan lintas program maupun sektor
BAB VI
BAB VIII
                        

Similer Documents